REDAKSI8.COM, ANJAR – Harapan petani di Kecamatan Tatah Makmur mulai menemukan titik terang. Setelah lebih dari tiga tahun lahan pertanian mereka terendam air tanpa surut, pemerintah setempat bersama instansi terkait kini bergerak cepat mencari solusi konkret agar aktivitas bercocok tanam bisa kembali berjalan normal.
Sedikitnya lebih dari 100 hektare lahan pertanian yang tersebar di empat desa terdampak genangan berkepanjangan. Kondisi ini membuat petani tidak dapat menanam padi, sehingga produksi pertanian di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan.
Sebagai langkah awal penanganan, Kecamatan Tatah Makmur bersama Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Kabupaten Banjar menggelar pertemuan lanjutan pada Rabu (1/4/2026). Pertemuan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Camat Tatah Makmur, jajaran Bidang Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) DPUPRP, Dinas Pertanian, perwakilan pambakal desa terdampak, hingga Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).
Camat Tatah Makmur, H. Rahmat Wahyudi, mengungkapkan bahwa desa yang terdampak genangan meliputi Desa Pamangkih Baru, Tampang Awang, Taibah Raya, dan Jaruju Laut.
“Sudah lebih dari tiga tahun para petani tidak bisa menanam padi di lahan mereka yang terus tergenang air. Dampaknya, produksi padi di kecamatan kami mengalami penurunan,” jelasnya.
Tidak berhenti pada diskusi, seluruh pihak yang terlibat langsung turun ke lapangan untuk melihat kondisi riil dan menganalisis penyebab genangan. Langkah ini dinilai penting agar solusi yang diambil benar-benar tepat sasaran dan efektif dalam jangka panjang.
Dari hasil pertemuan dan peninjauan lapangan, perwakilan DPUPRP Kabupaten Banjar, Muhammad Elyani, menyampaikan bahwa penanganan awal yang akan dilakukan adalah pemasangan gorong-gorong di dua titik strategis. Lokasi tersebut berada di sekitar Gedung PNPM Desa Tampang Awang dan di dekat trafo listrik Desa Pamangkih Baru.
“Pemasangan gorong-gorong ini diharapkan dapat memperlancar aliran air yang selama ini tertahan, sehingga genangan di lahan pertanian bisa berkurang,” ujarnya.
Dengan adanya aliran air yang lebih baik, diharapkan lahan pertanian tidak lagi tergenang secara permanen dan petani dapat kembali mengolah sawah mereka.
Upaya ini menjadi langkah awal pemulihan sektor pertanian di Tatah Makmur. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk terus memantau perkembangan di lapangan serta membuka kemungkinan penanganan lanjutan apabila diperlukan.
Bagi para petani, rencana penanganan ini membawa harapan besar. Setelah bertahun-tahun kehilangan masa tanam, mereka kini menanti realisasi solusi agar bisa kembali menanam dan menghidupkan kembali roda ekonomi pertanian di wilayahnya.



