REDAKSI8.COM, BANJAR, Depth Newa – Sektor pertanian di Kabupaten Banjar memasuki tahun 2026 dengan optimisme yang dibarengi kewaspadaan. Di satu sisi, produksi padi menunjukkan tren peningkatan signifikan. Namun di sisi lain, tantangan struktural seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga keterbatasan sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang tak sederhana.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengakui bahwa tekanan terhadap sektor ini semakin kompleks. “Perubahan iklim, regenerasi petani yang lambat, keterbatasan SDM, infrastruktur, dan kebutuhan modernisasi masih menjadi tantangan utama. Ditambah lagi penyuluh pertanian yang kini ditarik menjadi pegawai pusat, tentu ini berdampak pada pelayanan di tingkat petani,” ujarnya.
Penarikan penyuluh ke pusat menjadi isu krusial. Selama ini, penyuluh merupakan ujung tombak transfer teknologi dan informasi di lapangan. Tanpa pendampingan intensif, adopsi inovasi pertanian, mulai dari penggunaan varietas unggul hingga mekanisasi berpotensi melambat.
Dengan jumlah SDM terbatas di dinas, koordinasi dan kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah daerah berupaya memaksimalkan sinergi lintas sektor serta memperkuat peran kelompok tani agar tidak sepenuhnya bergantung pada pendampingan formal.
Banjar, Lumbung Padi Kedua Kalsel.
Di tengah berbagai hambatan, capaian produksi padi justru menunjukkan kabar menggembirakan. Kabupaten Banjar menempati posisi kedua produksi padi di Kalimantan Selatan setelah Kabupaten Barito Kuala.
Produksi gabah kering giling pada 2024 tercatat 153.538 ton, meningkat menjadi 166.001 ton pada 2025, naik hampir 12 ribu ton. Lonjakan ini menjadi modal penting dalam mendukung target swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Program cetak sawah menjadi salah satu strategi memperluas areal tanam. Dari total rencana 2.791,97 hektare di delapan kecamatan, realisasi fisik baru mencapai 1.075,78 hektare.
Anomali cuaca menjadi penghambat utama. Pekerjaan yang dimulai pada September berbenturan dengan percepatan musim hujan. Curah hujan tinggi menyebabkan genangan dan kenaikan permukaan air, membuat alat berat sulit beroperasi.
Ketidaktepatan musim membuat efektivitas pekerjaan menurun. Tahun 2026, fokus akan bergeser pada optimalisasi lahan yang telah terbentuk melalui program olah lahan pasca cetak sawah.
Jika Maret ini air mulai surut, pengerjaan lanjutan ditargetkan segera berjalan.
Untuk menjaga momentum produksi, Pemkab Banjar memprioritaskan:
* Optimalisasi lahan (oplah)
* Bantuan sarana produksi dan alat mesin pertanian
* Peningkatan infrastruktur irigasi dan jalan usaha tani
* Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
* Mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim
* Penguatan kelembagaan petani
Diversifikasi komoditas juga diperkuat. Selain padi sebagai komoditas utama, hortikultura seperti cabai, bawang merah, pisang, jeruk, dan durian menjadi fokus. Di sektor perkebunan, kopi mulai mendapat perhatian serius karena permintaan pasar lokal masih tinggi dan pasokan belum mencukupi.
Fakta bahwa banyak kedai kopi di Kalimantan masih mendatangkan bahan baku dari luar daerah menunjukkan adanya peluang ekonomi yang belum tergarap maksimal.
Di sektor peternakan, pengembangan sapi melalui inseminasi buatan serta peningkatan populasi itik diharapkan mampu menopang ketahanan pangan berbasis protein hewani.
Tahun 2026 menjadi momentum pembuktian. Apakah Kabupaten Banjar mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung padi Kalimantan Selatan, atau justru terhambat oleh persoalan struktural yang belum sepenuhnya teratasi.
Kuncinya terletak pada adaptasi terhadap perubahan iklim, percepatan modernisasi, serta penguatan SDM dan kelembagaan petani. Tanpa itu, peningkatan produksi bisa saja menjadi capaian sesaat.
Namun dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan yang konsisten, Banjar berpeluang tidak hanya bertahan, tetapi juga memperkuat perannya dalam peta ketahanan pangan nasional.
DinsosP3AP2KB Banjar Perkuat Akurasi Data DTSEN 2026, Pastikan Bantuan Sosial Tepat Sasaran
REDAKSI8.VOM, BANJAR - Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB) terus...



