REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Warga Jalan Kurnia, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, mengeluhkan dugaan pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah cair dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Landasan Ulin Utara 2.
Keluhan warga mencuat setelah limbah dapur yang dibuang ke saluran air diduga mencemari sumur warga dan mengalir hingga ke kebun milik masyarakat sekitar.

Ketua RT 03 RW 03 Kelurahan Landasan Ulin Utara, Abdul Rahim menyebut, persoalan limbah tersebut sudah lama terjadi dan sebelumnya telah ditegur, namun belum ditangani secara serius.
“Mengalirnya ke selokan warga, akhirnya sumur warga ikut terdampak. Yang kemarin, bulan dulu masih belum lalu dibiarkan sampai sekarang udah gak bisa lagi ditahan gitu loh,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (27/1/26).
Ia menyampaikan, sebagian besar warga mengeluhkan kualitas air sumur yang terdampak limbah dapur MBG.
Selain itu, aliran limbah dari selokan juga masuk ke kebun warga sehingga lahan tidak bisa dimanfaatkan.
“Ini kan pembuangan limbah, tapi kita kemarin kan udah menegur beberapa kali kepada mitra dapur tapi kata beliau bilang nanti-nanti gitu,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, warga kemudian melaporkan keluhan kepada pihak Kelurahan dan dinas terkait agar segera ditindaklanjuti.
“Kita berharap depannya supaya cepet ditangani lah. Kita bukan mengganggu program Pemerintah, kita minta kebersihannya aja dijaga,” harapnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Landasan Ulin Utara 2, Muhammad Iqbal mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah penanganan.
“Kami langsung bertindak cepat untuk mengatasi masalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di SPPG sini,” ucapnya.
Bahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan mitra yayasan dapur serta dinas terkait untuk mempercepat perbaikan sistem pengolahan limbah.
Meski begitu, hingga kini, dapur SPPG di Jalan Kurnia melayani ribuan porsi makanan setiap harinya.
“Saat ini ada penerima manfaat 14 sekolah, selama ini tidak ada kendala, cuma karena over kapasitas dari penerimaan manfaat untuk masalah di dapur ini sering terlambat,” tuntasnya.



