REDAKSI8.COM, KALSEL – Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bergerak cepat mengantisipasi potensi serangan hama lanjutan pascabanjir yang mengancam pertanaman petani, khususnya hama tikus pada masa tanam.
Kepala BPTPH Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni menyebut, pengalaman di lapangan menunjukkan peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) setelah banjir surut.

Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu produktivitas pertanian.
“Biasanya setelah dampak banjir, akan muncul hama lanjutan, salah satunya tikus. Untuk mengantisipasi hal tersebut pada masa pertanaman, kami sudah menyiapkan bahan pengendali berupa rodentisida,” ujarnya, Senin (26/1/26).
Menurutnya, bahan pengendali itu telah disalurkan ke brigade-brigade pengendalian yang berada di laboratorium BPTPH di masing-masing wilayah kerja.
Selanjutnya, bahan tersebut akan didekatkan ke Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) agar siap digunakan di lapangan.
“Dari laboratorium nanti akan didekatkan ke para POPT di lapangan, sehingga bahan pengendali bisa tersedia pada saat akan digunakan untuk pengendalian atau gerakan pengendalian,” jelasnya.
Ia menegaskan, pendistribusian bahan pengendali tidak ditetapkan dalam jumlah tetap, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan laporan kejadian OPT di lapangan.
“Untuk jumlahnya menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Kami mendata sesuai laporan kejadian. Jadi bukan angka tetap, tapi berdasarkan kondisi riil,” katanya.

Selain menyiapkan stok internal, BPTPH Kalsel juga terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota terkait ketersediaan bahan pengendali.
Sebab, Pemerintah Daerah (Pemda) juga memiliki alokasi anggaran tersendiri untuk pestisida, rodentisida, dan herbisida.
“Ketersediaan bahan pengendali selalu kami koordinasikan dengan dinas kabupaten kota. Untuk brigade kami, bahan diberikan sesuai kejadian yang dilaporkan POPT di lapangan dan diaplikasikan saat gerakan pengendalian dilakukan,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, adanya peningkatan dukungan pengadaan bahan pengendali pada tahun ini, baik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun bantuan langsung dari Pemerintah Pusat.
“Kalau dari APBD ada peningkatan, ditambah lagi kami mendapatkan bantuan dropping dari pusat melalui Direktorat Pestisida, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP). Itu bukan anggaran kami, tapi bantuan langsung dari pusat berdasarkan surat permohonan,” tuturnya.
Dalam penanganan pascabanjir, Lestari berharap, petugas di lapangan dapat terus mendampingi petani, tidak hanya terkait pengendalian OPT, tetapi juga perbaikan sarana pertanian yang terdampak banjir.
Namun, ia memastikan penyuluh pertanian dan POPT siap mendampingi petani untuk mengamankan pertanaman pada musim tanam berikutnya agar produksi pertanian di Kalimantan Selatan tetap terjaga.
“Harapan kami, petugas bisa mendampingi petani melakukan perbaikan lahan, baik saluran air maupun galangan yang rusak akibat banjir,” tutupnya.



