REDAKSI8.COM, KALSEL – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan melakukan pendataan serta pemetaan terhadap sekolah-sekolah yang terdampak banjir di sejumlah wilayah.
Pendataan tersebut mencakup satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Luar Biasa (SLB), baik negeri maupun swasta.
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, mengatakan proses pendataan masih berjalan, khususnya untuk sekolah swasta.
berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 926 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta, mengalami kerusakan akibat banjir.
“Total sekolah terdampak itu ada 926, terdiri dari negeri dan swasta dari setiap jenjang. Rinciannya, PAUD sebanyak 372, SD 421, SMP 83, serta SMA dan SMK sederajat sebanyak 50 sekolah,” ujarnya, Jum’at (9/01/26)
Ia menjelaskan, banjir berdampak signifikan terhadap aktivitas pembelajaran di sejumlah sekolah.
Salah satu yang terdampak cukup parah yakni SMAN 3 Martapura.
Saat dilakukan peninjauan langsung pada Kamis (8/1/2026), akses menuju sekolah tersebut masih terendam banjir hingga setinggi paha orang dewasa.
Menurut Tantri, kondisi tersebut memaksa pihak sekolah dan Disdikbud melakukan langkah-langkah pengamanan guna meminimalisir kerusakan sarana dan prasarana.
“Kami melakukan pengamanan dengan rekayasa konstruksi sederhana, seperti menaikkan meja dan kursi agar tidak terendam air,” ujarnya.
Disdikbud Kalsel memastikan pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir akan menjadi prioritas pada tahun anggaran 2026. Saat ini, pihaknya tengah menghitung tingkat kerusakan serta kebutuhan anggaran untuk perbaikan.
“Perbaikan sekolah terdampak akan menjadi fokus utama pada tahun 2026. Kami sedang melakukan penghitungan kerusakan dan estimasi anggaran yang dibutuhkan,” jelas Tantri.
Berdasarkan pendataan sementara, sekolah terdampak banjir tersebar di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut.
Dampaknya bervariasi, mulai dari genangan di halaman sekolah hingga air masuk ke ruang kelas dan ruang praktik.
Beberapa sekolah yang tercatat terdampak antara lain SLB Negeri 1 Amuntai, SMAN 3 Martapura, SMAN 1 Mataraman, SMAN 1 Aluh-Aluh, SMAN 1 Beruntung Baru, SMAN 1 Gambut, SMK Sungai Tabuk, SMK Kertak Hanyar, SMK NU Ma’arif, SMAN 13 Banjarmasin, SMAN 1 Jejangkit, SMAN 1 Mandastana, dan SMK Harapan Bangsa.
Sementara itu, Disdikbud Kalsel memastikan tidak terdapat sekolah terdampak banjir di wilayah Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tanah Bumbu, Kotabaru, serta Kota Banjarbaru.
Untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar selama bencana, Disdikbud Kalsel menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring. Kebijakan ini disertai dengan kelonggaran bagi sekolah, guru, dan peserta didik, khususnya terkait kehadiran.
“Kami ingin memastikan hak belajar peserta didik tetap terpenuhi di tengah kondisi bencana. PJJ menjadi solusi sementara, mengingat banyak rumah siswa juga terdampak banjir,” pungkas Tantri.



