REDAKSI.COM, KALSEL – Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) ditegaskan bukan disebabkan dari kerusakan lingkungan berat atau banjir bandang, melainkan tingginya curah hujan yang tidak tertampung oleh kapasitas sungai.
Penegasan tersebut disampaikan langsung Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin usai memimpin Rapat Koordinasi (rakor) Penanganan Banjir Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel di Gedung Idham Chalid Banjarbaru pada Selasa (6/01/26) sore.
“Ini bukan banjir bandang dan bukan karena kerusakan lingkungan berat,” ucap Muhidin.
Ia menegaskan, hingga saat ini tidak ditemukan indikasi kerusakan akibat aktivitas tambang maupun pembalakan besar di wilayah terdampak banjir.
“Kita tidak ada kerusakan tambang, tidak ada kerusakan akibat hanyutnya kayu, tidak seperti daerah lain,” ujarnya.
Menanggapi isu aktivitas perusahaan di wilayah hulu, menurutnya kondisi di Kalsel berbeda dengan sejumlah daerah lain, termasuk Sumatera, yang kini tengah dikaji oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
“Kalau di Sumatera itu sedang dikaji dan diproses. Kalau di kita sampai hari ini tidak ada,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan pihaknya untuk tetap membuka ruang evaluasi apabila ditemukan pelanggaran di kemudian hari.
“Kalau nanti ada temuan, tentu akan dikaji dan diproses. Tapi sekarang belum ada,” tuturnya.
Muhidin menilai, faktor utama banjir lebih disebabkan curah hujan tinggi dan hambatan aliran sungai, bukan kerusakan lingkungan berat di wilayah hulu.
“Air hujannya tinggi, sungainya tidak mampu menampung. Itu yang terjadi,” tandasnya.



